Selasa, 11 Juni 2013

Kaukus Lintas Agama

12 Mahasiswa IAIN Walisanga Semarang & Rm Budi
12 Mahasiswa  IAIN Walisanga berfoto bersama Romo Aloysius Budi Purnomo PR seusai malam misa natal di gereja St FX Kebon Dalem, Semarang.

Ada yang lain di Gereja St Fransiskus Xaverius Kebon Dalem, Semarang, Jawa Tengah, di malam Misa Natal, Senin (24/12/2012) lalu.

Gereja yang terletak dekat pinggir kali itu kedatangan 12 mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisanga Semarang.

Menurut Aloysius Budi Purnomo PR yang memimpin misa malam itu, sebelum misa dimulai, pihaknya kedatangan belasan pemuda dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisanga Semarang.

Mereka bahkan duduk di kursi lipat paling depan dalam gereja yang disediakan secara mendadak karena kursi yang disediakan telah habis.

Seperti dilansir koranjakarta.com, Rabu (26/12/2012), kedatangan 12 mahasiswa dari IAIN Walisanga itu sebelumnya sempat membuat terkejut para staf gereja, tidak terkecuali Romo Aloysius Budi. Apa maksud kedatangan mereka?

Di tengah larangan mengucapkan selamat dan merayakan natal bersama–lantaran hal itu termasuk bagian ibadah ritual Kristen–Kedatangan mereka ternyata untuk mengucapkan selamat natal dan mengikuti misa sampai selesai.

Ke-12 mahasiswa itu berasal dari Fakultas Ilmu Perbandingan Agama IAIN Walisanga Semarang. Kedatangan mereka memberitahukan dan memohon izin untuk mengikuti misa malam Natal di gereja.

Romo Kepala Paroki St Fransiskus Xaverius Kebon Dalem, Aloysius Budi Purnomo PR, mengatakan kedatangan teman-teman mahasiswa dan mahasiswi IAIN Walisanga Semarang itu bermaksud mengikuti perayaan misa malam Natal.

“Saya pikir, mereka datang untuk ikut mengamankan jalannya perayaan misa malam Natal, ternyata mereka mengatakan mau ikut serta dari awal sampai selesai,” katanya.

Namun, karena semua bangku dan kursi di dalam dan di luar gereja sudah dipadati oleh ribuan umat yang hadir, mereka dipersilakan duduk di kursi lipat yang disediakan secara mendadak di bagian paling depan di dalam gereja. Mereka dengan khidmat mengikuti jalannya upacara misa malam Natal.

Tepuk tangan dan senyuman penuh arti oleh ribuan umat Katolik yang mengikuti misa tersebut riuh saat Romo Budi memperkenalkan kepada hadirin akan kedatangan mereka. “Yesus Kristus memang lahir bukan hanya untuk orang Kristiani, tetapi untuk siapa pun juga,” ujar Aloysius Budi.
Menurut Budi yang juga Ketua Komisi Hubungan Antar agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang, peristiwa ini menjadi penting di tengah disertifikasi spiritual saat orang mudah terjebak dalam padang gurun kekeringan rohani yang bahkan membuat orang menolak keberadaan Tuhan.

“Apa pun yang menjadi motivasi mereka, kehadiran mereka dalam misa malam Natal hingga selesai memberikan kesejukan harmoni di tengah padang gurun kehausan orang mendambakan hidup rukun dan damai,” ungkapnya.

Aktualisasi

Sementara, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perbandingan Agama IAIN Walisanga Semarang, Ahmad Muqsith, yang hadir pada malam misa itu mengatakan apa yang dilakukannya bersama teman-temannya adalah wujud toleransi beragama yang diaktualisasikan.

Wujud toleransi itu diaktualisasikan dengan menghadiri acara misa malam Natal.

“Kami mencoba mengambil bagian dalam upaya melestarikan kerukunan antarumat beragama. Saya rasa saat semua orang sudah mampu mempelajari agama dari beberapa aspek sosial, mereka akan sangat menghargai umat agama lain. Karena saat kita berbuat baik, orang tidak akan menanyakan apa agama kita,” ujar dia.

Kalau Mahasiswa IAIN Walisanga Semarang bisa...? kapan giliran Puri Asih....? ada banyak acara di Indonesia yang bisa kita jadikan ajang silaturahmi : Waisak, Nyepi, Galungan Kuningan, Imlek, Cap Go Mek, Paska dan Natal, Suro, Kasada dll. Rahayu....!

Minggu, 09 Juni 2013

Meditasi dan Kontemplasi

Pertanyaan:

Rahayu....  _()_
Saya seorang umat Kristen di salah satu gereja yang ada di Indonesia dan saya tertarik dengan spiritual Jawa. Awalnya saya pikir tidak ada orang kristen yang percaya dengan kejawen. Mengingat doktrin theologia gereja selalu mengedepankan ajaran alkitab yang lasim di sebut alkitabiah.

Theologia gereja saya tidak mengajarkan tentang meditasi, oleh karena itu, demi memuaskan keinginan bathin saya, saya banyak belajar dari buku-buku meditasi Kristiani yang saya pinjam dari teman-teman Katholik. Tolong jelaskan bagaimana ajaran katolik mengenai pemahaman meditasi dan kontemplasi, dan bagaimana pula perbedaannya menurut kawerh Jendra Hayuningrat, karena akhir-akhir ini saya mengenal meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB, seorang rahib Benedictin? Menurut Guigo (the ladder of monk), menurut beliu meditasi merupakan upaya memahami atau merenungkan karunia Allah sedangkan kontemplasi merupakan upaya merasakan indahnya karunia tersebut. Definisi lain mengatakan bahwa meditasi yang berasal dari kata meditare (“stare in medio”) berarti “berada di pusat,” sedangkan kontemplasi berarti bersama Allah di dalam hati kita.

Saya juga ingin dijelaskan tentang posisi manusia di hadapan  Allah menurut ajaran Jendra. Apakah manusia berhadapan dengan Allah seperti seorang hamba yang bertelut di hadapan sang Raja ataukah manusia boleh menjadi satu dengan-Nya seperti ajaran Alm Rm Dick Hartoko SJ, Syech Siti Jenar dan para guru lantaran kaweruh kebathinan, yaitu “manunggaling kawulo-gusti”? Dalam Alkitab kita memang menemukan ayat-ayat yang mendukung kedua pandangan tersebut. Dalam Lukas 10:42, Yesus mengatakan "Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya karena Maria telah duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya". Sementara di dalam Yohanes 14:20, Yesus mengatakan, “Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”

Demikian email saya, bukan bermaksud menguji pengetahuan bapak, semoga bapak tidak tersingung karena email saya bertanya bukan tentang Jendra, akan tetapi lebih ke persoalan iman kristiani. Mohon penjelasan secara alkitabiah agar dalam menjalani spiritual yang menjadi pemuas bathin saya, saya tidak menyimpang dari tuntunan alkitab yang menjadi dasar iman kristiani.

Saya pribadi akan senang sekali kalau email ini di terbitkan dalam postingan bapak, sekaligus terbitkan juga dalam postingan jawaban-jawaban dari bapak. Kiranya Tuhan memberkati bapak sekeluarga.
From : of a person in one place

Jawaban:

Rahayu sagung dumadi  _()_

Pertama : Saya mencoba melepaskan diri dari pengetahuan yang saya miliki tentang dasar meditasi Jendra, agar saya bisa masuk kedalam semua pertanyaan dan pemahaman saudara tentang meditasi. Jika kita melihat meditasi dan kontemplasi dalam tradisi do'a Gereja Katolik, maka kita dapat melihat pengertian meditasi - kontemplasi yang saudara sampaikan adalah benar ( mungkin karena saudara membaca buku yang tepat tentang meditasi gerejawi ).

Saya sendiri banyak belajar dari seorang Romo muda ( nama dan domisili saya rahasiakan) dan saya mendapat hadiah beberapa buku serta ebook tulisan Rm Yohanes Indra Kusuma, St Yohanes dari Salib dan beberapa buku tulisan penulis ternama lainya di jajaran Katholik. Dalam tradisi doa Karmelit, seperti yang diajarkan oleh St. Teresa dari Avila, dan diteruskan oleh Padre Tomas de Jesus (1587), maka terlihat meditasi dan kontemplasi merupakan dua metoda do'a yang saling berkaitan. Ketujuh bagian dalam metoda do'a Karmelit adalah: persiapan, pembacaan dari Alkitab/ bacaan rohani, meditasi, kontemplasi, ucapan syukur, permohonan, dan penutup. ( kalau saudara berasal dari Jember, hal ini saya trapkan dalam perkumpulan kemisan, yang bertempat di kanopi gereja Katholik Jln Kartini Jember )

Memang meditasi menurut St. Teresa dari Avila, sebaiknya diikuti oleh Prayer of recollection, yang artinya mengumpulkan semua usaha dari jiwa, yaitu, baik memori, imajinasi, intelek/ pemikiran, ataupun keinginan untuk dapat dipusatkan dan masuk dalam hadirat Allah. Langkah selanjutnya dari Prayer of recollection ini adalah Prayer of Quiet, yang menjadi awal dari kontemplasi. Di dalam bukunya “Puri Batin/ Interior Castle“, St. Teresa mengumpamakan sebuah ‘istana kristal’ yang berlapis-lapis yang ada dalam hati kita. Pada pusatnya hadirlah Yesus dengan terang-Nya yang memancar. Namun untuk sampai ke sana kita harus melalui lapisan-lapisan ‘bilik/ mansion‘ tersebut, yang totalnya berjumlah 7 lapisan. Pada lapisan awal itu terdapat banyak ‘binatang melata’ atau kalau dalam meditasi Jendra " Monyet/beruk" yang mengganggu dalam meditasi kita, yaitu pikiran-pikiran yang mengganggu konsentrasi kita sewaktu berdoa.

Oleh karena itu untuk menepiskan gangguan ini, menurut St. Teresa di beberapa bukunya yang saya baca, seseorang harus mengumpulkan segenap kemampuan jiwanya, agar ia dapat terus memusatkan diri kepada Yesus yang ada pada lapisan yang terakhir (bilik yang ketujuh). Pada lapisan terakhir inilah kita mengalami persatuan dengan Allah yang menjadi tujuan kontemplasi. Maka terlihat di sini bahwa meditasi dan prayer of recollection tersebut merupakan langkah/ jalan menuju kontemplasi. Mungkin suatu saat nanti Kaweruh Transparan akan menuliskan tentang  apa saja ketujuh tahapan menurut St. Teresa tersebut, sehingga bersama kita akan dapat semakin memahami perjalanan doa menuju kontemplasi.

Jadi melihat pola tingkatan ini, maka ajaran Fr. John Main OSB dengan memperkenalkan cara meditasi dengan mantra-mantra Kristiani, ataupun ajaran Romo Yohanes O Carm ( waktu itu penulis mengikuti ret-retnya di Ngadireso Tumpang Malang ) tentang doa Yesus dengan ritme tarikan/ hembusan nafas, dapat dikatakan tidak bertentangan dengan tradisi doa meditasi Katholik. Dengan catatan, jika mau menggunakan ‘mantra’ untuk membantu, kata itu haruslah yang umum kita kenal dan kita ketahui artinya dalam tradisi Kristiani.

Jika demikian, tentu hal ini dapat saja dilakukan, karena itu hanya merupakan cara memusatkan hati dan pikiran. Jika kita sudah terbiasa dengan ritme tersebut, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menggunakan imajinasi atau pikiran kita untuk merenungkan tentang Allah. Jadi prinsipnya mirip dengan yang diajarkan oleh St. Teresa, bahwa kita perlu memusatkan segenap hati dan pikiran kepada Tuhan di dalam doa-doa kita.

Ini sungguh merupakan perjuangan, karena memang tak jarang, begitu kita mulai berdoa, ada banyak pikiran yang dapat mengganggu konsentrasi kita. St. Teresa mengandaikan tahap pemula ini sebagai seorang petani yang harus bersusah payah menimba air sumur untuk mengairi sawahnya, sedangkan lama kelamaan jika tidak terlalu banyak usaha yang diperlukan, itu seumpama petani yang mengairi sawahnya dengan mengarahkan air dari sungai/ mata air.

Jika kita dengan disiplin melatih rohani kita lewat meditasi/ prayer of recollection, maka ada saatnya dimana doa bukan menjadi sesuatu yang sangat sulit/ merupakan perjuangan keras (untuk mengalahkan pikiran yang berkecamuk) namun hati yang terarah kepada Tuhan akan lebih mudah tercapai. Di sini, perlu kita ketahui bahwa ada dua jenis kontemplasi, yang pertama disebut acquired contemplation yaitu kontemplasi yang diperoleh dengan ‘usaha’ dari pihak kita dan yang kedua, disebut sebagai infused contemplation, yaitu kontemplasi yang sungguh diberikan dari Allah sendiri.

Tentu kedua tahap ini mensyaratkan disposisi hati yang baik di dalam doa dan kehidupan rohani kita. Menurut St. Teresa, pure contemplation adalah infused contemplation, yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri. Di akhir kontemplasi ini adalah pengalaman persatuan dengan Tuhan, dimana hanya kasih Allah yang begitu besar yang mengatasi segalanya, sehingga tidak dapat lagi diuraikan dengan kata-kata. St. Teresa mengandaikan hal ini sebagai seorang petani yang tidak perlu lagi mengairi sawahnya, karena hujan yang begitu deras telah turun dari surga dengan limpahnya, dan sang petani hanya menikmati siraman air kehidupan tersebut dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Perlu juga diketahui, bahwa St. Teresa tidak merendahkan makna doa vokal/ dengan kata-kata. Sebab jika dido'akan dengan sepenuh hati, maka doa vokal ini dapat pula menghatar seseorang kepada kontemplasi.

Kedua : Melihat pengertian di atas, maka hubungan kita dengan Tuhan di dunia ini sesungguhnya meliputi kedua sisi yang saudara sampaikan. Yaitu kita harus belajar bertumbuh dalam kerendahan hati untuk duduk di kaki Tuhan seperti Maria (Luk 10:42), dan mempunyai hati sebagai seorang hamba, yang mau dengan segenap jiwa dan tenaga berusaha melaksanakan kehendak-Allah. Namun, kita juga percaya, bahwa di tengah-tengah perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan menyertai kita dan tinggal di tengah kita. Inilah yang secara khusus kita rayakan dan kita alami dalam Ekaristi Kudus, Perjamuan dan dalam Jendra Kembul Bujana ( makan Klepon bersama ).

Walaupun, kita juga menyadari bahwa persatuan kita dengan Allah secara sempurna hanya terjadi di Ngayugyokarto kang kaping pindo, namun sementara hidup kita di dunia, Tuhan telah mengizinkan kita untuk mulai mengalami rahmat penyaatuan itu, melalui dan di dalam Gereja Katholik misalkan ( maaf, karena saudara tidak menjelaskan dari gereja mana ) atau Kaweruh Jendra dengan Puri Asihnya.. Lumen Gentium 1 dan KGK 776 mengatakan, Gereja adalah sarana keselamatan bagi semua orang, “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.” atau Kaweruh Jendra Hayuningrat salah sawijining kaweruh kang paring wedaran bab jengkar tumuju Kraton Ngayugyokarto kang kaping pindo.

Memang pada akhirnya, jika kita sampai di Kraton Ngayugyokarto kang kaping pindo (surga ) nanti, yang ada tinggal penyatuan kita yang sempurna dengan Tuhan ( MKG : Manunggaling Kawula - Gusti seperti ajaran Alm Rm Dick Hartoko SJ dan Syech Siti Jenar ) atau disebut juga dengan kontemplasi yang sempurna (beatific vision), di mana kita memandang Allah di dalam Dia dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:3), karena kita telah dipersatukan dengan Kristus. Dalam hal ini, tepatlah apa yang disampaikan oleh Alm Rm Dick Hartoko SJ “manunggaling kawulo-gusti”.

Namun perlu kita ingat dalam penyatuan antara kita dengan Allah ini tidak menjadikan kita manusia sebagai Allah. Setiap manusia akan tetap mempunyai identitasnya sendiri-sendiri, namun semuanya tergabung dalam kesatuan yang sempurna dalam kesatuan Umat Allah, sebagai satu Tubuh Kristus, yang dibangun sebagai Bait Roh Kudus, di mana Allah me-Raja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28). Inilah tujuan akhir dari Gereja yang jaya di surga kelak dan Kaweruh Jendra Hayuningrat dengan Puri Asih-nya atau kaweruh-kaweruh kebathinan lainya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Rahayu __()__ wonten ing panjenengan sak brayat.



Sebelum beranjak dari halaman ini, saya sangat senang sekali jika Anda bersedia meluangkan sedikit waktu untuk mengunjungi  blog kami yang lainnya : Sastra JendraHayuningrat
Sudilah kiranya para pembaca untuk mengajak teman, kerabat dan kenalan berkunjung di blog tersebut, untuk mendukung kami dalam mengikuti kontes blog. Besar harapan kami untuk menang, agar kami memiliki domains yang berbayar. Trimakasih!! Salam Kejawen _()_ Rahayu!


Ditemukan Kitab Taurat Tertua di Dunia

Pakar manuskrip Yahudi asal Italia mengatakan  beberapa waktu  yang lalu, bahwa ia telah menemukan gulungan Taurat terlengkap tertua di dunia. Dokumen dari kulit domba itu diperkirakan berasal dari 1155-1225.

Uniknya, gulungan dokumen ini ditemukan di perpustakaan University of Bologna, sekitar satu abad lalu dokumen ini salah dikategorikan sebagai temuan dari abad 17. Dokumen ini bukanlah teks Taurat tertua di dunia; injil Aleppo dan Leningrad--dua-duanya kodeks Yahudi atau buku--lebih tua 200 tahun dari gulungan dokumen ini.

Namun Taurat ini adalah gulungan tertua dari Pentateuch, lima buku Musa, menurut Mauro Perani, profesor bahasa Yahudi di departemen warisan budaya University of Bologna. Gulungan dokumen tersebut sepanjang 36 meter dan tingginya 64 cm dimunculkan di sinagoga pada Hari Sabbath dan hari-hari besar lainnya, dan beberapa bagiannya dibacakan untuk umum. 

Sangat sedikit gulungan dokumen serupa yang bertahan, karena Taurat tua atau rusak harus dikubur atau disimpan di ruangan tertutup dalam sinagoga. Dalam wawancara telepon dengan Rabu, Perani mengatakan bahwa ia tengah memperbarui katalog manuskrip perpustakaan Yahudi saat menemukan gulungan tersebut pada Februari lalu. Ia langsung mengenali bahwa gulungan tersebut mempunyai penanggalan yang salah sejak terakhir kali tercatat pada 1889, karena ia melihat manuskrip dan tanda-tanda grafik lainnya jauh lebih tua. Rahayu....!


Sebelum beranjak dari halaman ini, saya sangat senang sekali jika Anda bersedia meluangkan sedikit waktu untuk memberi Like dan Share serta G+1 pada artikel ini, dengan demikian artikel ini juga dapat dibaca oleh sahabat, teman dan orang terdekat Anda serta orang yang membutuhkannya.

Mohon dengan hormat kepada para pembaca untuk mendukung kami dalam mengikuti kontes blog, sudilah kiranya para pembaca mengunjungi Blog kami Sastra Jendra Hayuningrat 
Trimakasih atas waktunya, semoga Sang Hyang Wenang mengganti waktu Anda dengan berkat belimpah-limpah. Salam Kejawen _()_ Rahayu!

Bag 15 ( selesai ) Meditasi Kristen

Penulis di Gereja Injili yang Mengalami terpikat Doa Kontemplatif

Beberapa penulis sangat populer di gereja evangelis telah terkunci pada doa kontemplatif sebagai cara untuk pergi lebih dalam dengan Allah. Richard Foster dan lokakarya Brennan Manning terus dan berbicara di gereja-gereja, seminari dan pertemuan pemuda di seluruh negeri. Doa: Mencari The Heart's True Home oleh Richard Foster; Kristen Halaman 122 - "... telah mengembangkan dua ekspresi dasar Doa henti. Doa aspiratory pertama ... biasanya disebut atau doa napas. Yang paling terkenal adalah doa napas Doa Yesus. Hal ini juga memungkinkan untuk menemukan doa napas individu sendiri ... Mulailah berdoa. Doa napas sesering mungkin. Pada halaman 156-159 doa kontemplatif Foster membahas secara mendalam.

Dalam Perayaan Dari Disiplin oleh Richard Foster 1998, Foster membuat beberapa rekomendasi buku yang "membantu" untuk membaca. Dia sungguh-sungguh mendukung buku Tilden Edward, Spiritual Friend. Berikut adalah beberapa kutipan dari buku itu: halaman 18dan 19 - "ini aliran mistik (doa kontemplatif dan tradisi monastik lainnya) adalah jembatan Barat untuk spiritualitas Timur Jauh (dan dengan Sufi Muslim ...); pertukaran ini, bersama dengan lebih dampak Timur populer di Barat melalui meditasi transendental, Hatha Yoga, seni bela diri, dan melalui program yang tersedia banyak di agama-agama Timur di universitas-universitas, telah dibantu sebuah penemuan kembali baru-baru ini dari tradisi mistik Kristen apophatic ... "Halaman 164 -" Thomas Merton dalam banyak hal membantu membuka jalan bagi penyelidikan Kristen baru-baru ini serius dari Timur kontribusi potensial "Page` 72. "terlibat di ekumenisme baru di sini bukan antara Kristen dan Kristen tetapi antara Kristen dan kasih karunia tradisi keagamaan lainnya secara intuitif dalam."
Tanda tangan Yesus oleh Brennan Manning; Page 218 - "Sebuah metode sederhana doa kontemplatif (sering disebut keterpusatan doa ...) mempunyai empat langkah ... memilih kata suci tunggal .... Mengulang kata suci dalam hati, perlahan-lahan, sering." Halaman 211 "Selama konferensi mengenai doa kontemplatif, pertanyaan itu diajukan kepada Thomas Merton: "Bagaimana kita bisa membantu orang-orang terbaik (tidak hanya orang Kristen) untuk mencapai persatuan dengan Tuhan?" Jawabannya sangat jelas. Kita harus memberitahu mereka bahwa mereka sudah bersatu dengan Allah. 'Doa kontemplatif adalah tidak lain dari yang masuk ke kesadaran yang sudah ada."

Dalam Discipleship Journal Edisi 100 1997 halaman 78 dalam sebuah wawancara, Brennan Manning merekomendasikan buku William Shannon, Diam di neraka dan buku Thomas Keating tentang doa keterpusatan, Open Mind, Open Heart. Dalam Diam di neraka, Shannon ledakan orang Kristen, Bibel Tuhan. Halaman 109, 110 "Ini adalah gagasan patriarki khas Allah. Dia adalah Allah Nuh yang melihat orang-orang tenggelam dalam dosa, bertobat, bahwa Dia membuat mereka dan memutuskan untuk menghancurkan mereka. Dia adalah Allah gurun yang mengirim ular menggigit umat-Nya karena mereka melawan Dia menggumam. Dia adalah Allah Daud yang praktis decimates orang ... Dia adalah Allah yang menuntut tetes terakhir darah dari Anak-Nya, sehingga murka-Nya saja, yang ditimbulkan oleh dosa, dapat diredakan. Suasana hati ini Tuhan yang bergantian antara keanggunan dan marah sengit. Ini Allah tidak ada."

Penting untuk dicatat di sini bahwa tujuan doa kontemplatif adalah untuk memasukkan kondisi kesadaran yang berubah untuk menemukan diri sejati seseorang, sehingga menemukan Allah. Diri sejati ini berkaitan dengan keyakinan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik. Pendukung doa kontemplatif Kristen mengajarkan bahwa semua manusia memiliki pusat ilahi dan bahwa semua, bukan hanya dilahirkan kembali beriman, harus praktek doa kontemplatif.

Di sini dan Sekarang oleh Henri Nouwen; halaman 22 - "Allah yang diam di dalam ruang terdalam kita adalah sama dengan satu yang diam di dalam ruang terdalam dari setiap manusia."

Aliran Air Hidup oleh Richard Foster, 1998; awal bab dua - sebuah kutipan oleh Thomas Kelly - "Deep dalam diri kita semua ada tempat batin yang luar biasa dari jiwa, suatu tempat yang kudus, suatu Pusat Ilahi, ..." Perayaan Disiplin oleh Richard Foster, Halaman 2- orang bahkan, "yang belum merubah hidup mereka kepada Yesus Kristus - dapat dan harus berlatih mereka" (disiplin rohani.) Abba Anak oleh Brennan Manning; 125 Halaman - "... jika saya menemukan Kristus, aku akan menemukan jati diri saya dan jika saya menemukan diri sejati saya, saya akan menemukan Kristus."

Matius 15: 18,19, KJV "M't: 15:18: Tetapi hal-hal yang berjalan keluar dari mulut berasal keluar dari hati; dan mereka menajiskan orang. M't: 15:19: Karena dari hati keluar pikiran yang jahat, pembunuhan, zinah, persundalan, pencurian, saksi dusta, umpat: " Markus 7: 21,22, KJV "M'r: 7:21: sebab dari dalam, dari hati orang, timbul pikiran jahat, percabulan, perzinaan, pembunuhan, M'r: 7:22: Pencurian, ketamakan, kejahatan, penipuan, kebirahan, mata jahat, hujat, kesombongan, kebodohan:"

Alkitab juga jelas memperingatkan doa berulang-ulang dan juga mengatakan bahwa kita tidak dapat menemukan Tuhan unmediated. Matius 6:7, KJV "M't: 06:07: Tetapi ketika kamu berdoa, tidak gunakan pengulangan sia-sia, seperti kafir melakukan, karena mereka berpikir bahwa Allah  mereka akan mendengar banyaknya kata-kata mereka."


Praktik Meditasi sering dipahami sebagai ajaran agama Timur, terutama agama non samawi seperti Agama Hindu dan Buddha. Meditasi bukanlah monopoli agama tertentu. Jika kita mencermati literatur agama, maka kita akan mengetahui bahwa meditasi ada dalam setiap agama.

Dalam tradisi mistik Kristen, praktik meditasi adalah doa. Menurut Pendeta Victor Tinambunan ada tiga jenis doa, yaitu: talking, listening, dan being. (berbicara, mendengar dan berada).

Berbicara: mengucapkan syukur atas kebaikan Tuhan; mengaku percaya akan kasih dan kebesaran Tuhan, menyampaikan permohonan kepada Tuhan, dan sebagainya. Ini yang paling banyak dilakukan orang Kristen.

Mendengar: mendengar sapaan Tuhan melalui pembacaan firman-Nya (Alkitab), mendengar kehendak Tuhan melalui sesama manusia; melalui peristiwa nyata kehidupan sehari-hari.

Berada: bersama dengan Tuhan. Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…” (Yoh. 15:4). Meditasi adalah salah satu wahana untuk menghayati dan menerima undangan Yesus ini. Jadi, meditasi adalah bagian dari perjumpaan dengan Tuhan.

Pertanyaannya, diantara tiga doa itu mana yang paling penting?
Menurut Laurence Freeman, itu adalah pertanyaan yang salah. Ini sama dengan menanyakan mana yang paling perlu: otak, jantung atau perut. Salah satu di antaranya tidak terlalu bermanfaat tanpa yang lain. Dalam hal ini, meditasi tidak menggantikan doa-doa yang lain. Satu hal yang mendasar dalam ketiga jenis doa itu adalah soal “hubungan” kita dengan Tuhan.

Dalam meditasi kita tidak mengajukan permohonan atau meminta kepada Tuhan. Kita malah tidak berpikir tentang Tuhan, tetapi terutama kita bersama dengan Tuhan. Kita tidak mencari kehadiran-Nya. Dia ada bersama kita dan di dalam kita. Kita hanya perlu menyadarinya dan menyambut-Nya setiap saat, secara khusus dalam meditasi. Meditasi sangat sederhana, meskipun harus diakui bahwa ‘sederhana’ tidak selalu mudah, khususnya di era modern ini.

Daftar buku refrensi

CHRISTIAN MEDITATION : HISTORY, PRESENT  PRACTICING, FUTURE
Dr. Mahli Sembiring, Mh.D.,DCTs

Stanza Madah Rohani Oleh ST Yohanes dari Salib

Madah Rohani oleh ST Yohanes dari Salib
Bunting, Ian. Editor. Closer to God. Practical help on your spiritual journey. (London, Scripture Union, 1995)

Hallesby . Prayer. Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1965)

Huggett, Joyce. The Joy of Listening to God. Hearing the Many Ways God Speaks to Us. (Downers Grove: IVP, 1986)

Open to God. Deepening Your Devotional Life. (Downers grove: IVP, 1989)

Miller, Calvin. The Table of Inwardness. (Downers Grove: IVP, 1984)

Mulholland, M. Robert. Invitation to A Journey. A Road Map for Spiritual Formation (Downers Grove: IVP, 1993)

Marvin  Meyer The Gnostic Gospels of  Yesus.


Mohon dengan hormat kepada para pembaca untuk mendukung kami dalam mengikuti kontes blog, sudilah kiranya para pembaca mengunjungi Blog kami Sastra Jendra Hayuningrat 
Trimakasih atas waktunya, semoga Sang Hyang Wenang mengganti waktu Anda dengan berkat belimpah-limpah. Salam Kejawen _()_ Rahayu!